couple

Sangjit, Tradisi Pernikahan Dalam Adat Tionghoa

Banyak bermunculan posting-an di sosial media yang memposting foto pernikahan, baik pernikahan dirinya sendiri, sanak saudaranya, ataupun teman terdekat. Namun bisa dilihat juga sebelum mem-posting foto pernikahan mereka pun hendak mem-posting foto sebelum hari berbahagia itu dengan warna yang mencolok yaitu warna merah. Orang Tionghoa mempunyai prosesi adat sebelum menikah yang disebut Sangjit.

Sangjit atau sangjitan (atau lebih dikenal dalam bahasa Indonesia dengan sebutan seserahan) yaitu keadaan di mana calon pengantin pria bersama keluarga dan sanak saudara datang menghampiri rumah wanita dengan membawa persembahan untuk pihak calon pengantin wanita dan biasanya hal ini dilakukan 1-3 bulan sebelum hari pernikahan.

Persyaratan yang biasa dilakukan ketika Sangjit:

  1. Calon pengantin pria umumnya akan menggunakan baju berwarna merah, begitu pula dengan calon pengantin wanita memakai dress berwarna merah atau pink
  2. Seserahan yang dibawa oleh pihak pria harus beraksenkan merah, seperti pita dan box-nya. Jumlah seserahan ini biasanya berjumlah genap 12 maupun 6 buah tergantung kecukupan financial dari pihak pria.

Tata cara yang biasanya dilakukan ketika Sangjit:

  1. Keluarga dari pihak wanita dan penerima seserahan biasanya sudah menunggu di depan pintu rumah;
  2. Seserahan dilakukan secara berurutan dari pembawa seserahan pihak pria ke penerima seserahan pihak wanita;
  3. Barang yang sudah diterima biasanya langsung dibawa ke kamar untuk diambil sebagian;
  4. Tradisi sangjit ini biasanya di pimpin oleh pihak yang merasa “dituakan” dari pihak wanita maupun pria. Setelah ramah tamah, biasanya pihak wanita menyiapkan makan siang untuk disantap bersama;
  5. Sampai di ujung acara, pihak wanita biasanya mengembalikan seserahan yang sudah diambil sebagian sebagai tanda bahwa pihak wanita tidak memberikan calon pengantin wanita seutuhnya kepada pihak pria namun mereka masih bisa campur tangan dalam pernikahan mereka;
  6. Pihak wanita biasanya juga di akhir akan memberikan angpao kepada para pembawa seserahan dalam artian supaya cepat diberikan jodoh.

Benda yang diserahkan kepada pihak perempuan:

  1. Buah-buahan, buah-buahan yang diberikan umumnya adalah buah jeruk dan apel. Buah ini juga melambangkan kedamaian dan kesejahteraan.
  2. Pakaian untuk calon mempelai wanita. Hal ini memberikan arti bahwa calon mempelai laki-laki siap untuk memenuhi sandang sang wanita.
  3. Uang angpao (uang susu) dan uang pesta, untuk uang angpao biasanya akan diberikan seluruhnya ke keluarga wanita, namun untuk uang pesta hanya boleh diambil buntutnya saja. Contohnya: jika calon mempelai pria memberikan uang Rp. 3.500.000, maka pihak keluarga wanita akan mengembalikan yang Rp. 500.000. Jika pihak keluarga wanita mengambil semua berarti seluruh biaya pernikahan ditanggung oleh pihak keluarga wanita.
  4. Sepasang lilin merah yang diikat dengan pita merah sebagai simbol perlindungan untuk menghalau pengaruh negatif. Satu akan disimpan oleh pihak wanita dan satu dikembalikan ke pihak laki-laki.
  5. Kue mangkok berwarna merah sebagai lambang kelimpahan dan keberuntungan. Biasanya berjumlah 18 buah dan semuanya dikembalikan ke pihak pria.
  6. Dua botol arak atau champagne. Botol arak/champagne ini akan ditukarkan dengan 2 sirup merah untuk pihak lelaki.
  7. Dan terlepas dari adat sangjitan ini,  yang paling penting adalah hubungan pernikahan yang bahagia dan penuh kedamaian yang akan dijalani oleh kedua belah pihak pria dan wanita.

Barang – barang tersebut biasanya yang umum diberikan untuk pihak wanita dari pihak pria. Namun, seiring berkembangnya zaman, barang-barang yang diberikan bisa di gantikan oleh barang-barang lain sesuai permintaan keluarga dan keinginan dari kedua belah pihak.

Semoga bermanfaat.

Tulisan Hana Merissa Christina, mahasiswa Ilmu Komunikasi (Public Relations) 2013, dimuat di situs Yinhuadaily.com.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *