Ristekdikti Tawarkan Program Beasiswa Indonesia-German (IGSP) 2017 Untuk 20 Dosen

Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti) bersama lembaga pendidikan dan riset Austria OeAD Österreichische Austauschdienst menyediakan beasiswa jenjang S2 dan S3 bagi 20 dosen Indonesia. Program ini resmi diluncurkan usai Direktur Jenderal Sumber Daya Iptek Dikti, Ali Ghufron Mukti dan Duta Besar Austria di Indonesia Andreas Karabaczek menandatangi Implementing Arrangement, Jum’at (19/8) di Gedung D, Senayan.

“Kerja sama ini untuk beasiswa dosen S2 dan S3 kita, maka setelah penandatangan MoU ini, akan dilanjutkan dengan persiapan seperti visa dan hal lain. Persiapan paling lama hingga akhir Februari atau Maret 2017, untuk pemberangkatan mereka,” ujar Dirjen Ghufron.

Disiplin ilmu yang ditawarkan, hanya yang berkaitan dengan program 7+1 Pengembangan Teknologi yang menjadi fokus Ristekdikti saat ini. Antara lain, pangan dan pertanian, maritim, teknologi informasi komunikasi, energi baru terbarukan, kesehatan dan obat, transportasi, material maju, serta pertahanan dan keamanan.

Namun tak menutup kemungkinan bila ada dosen yang berminat pada bidang ilmu lainnya. “Tidak menutup kemungkinan untuk yang berminat pada jurusan Humaniora dan Sosial. Dan kalau ada yang berminat di bidang seni dan budaya pun gak apa-apa,” katanya.

Dua puluh dosen terpilih berhak memilih semua universitas di Austria dengan waktu studi selama tiga tahun. Kemungkinan perpanjangan selama satu tahun dengan catatan memiliki prestasi studi karya siswa. Penerima beasiswa akan mendapatkan uang pembinaan sebesar 1000 euro tiap bulannya. Pembiayaan itu meliputi akomodasi, asurasi kesehatan, uang kuliah, tiket keberangkatan dan kepulangan, buku, dan tunjangan keluarga dengan maksimal satu anak.

“Dari 1000 euro per bulan itu, 800 euro dari Indonesia dan 200 euro dari Austria. Untuk jaminan keluarga hanya satu anak,” jelasnya. Sementara ketentuan usia bagi pelamar 35 tahun dan maksimal lima tahun setelah ia menempuh studi S2 atau S1.

Dirjen Ghufron juga menjelaskan kerjasama yang terjalin ini bukanlah yang pertama. Sejak tahun 1994 Indonesia dan Austria telah memulai kerjasama. Keduanya dianggap menjadi pelopor kerjasama antara negara Asia dengan Eropa (Uninet).

Andreas Karabaczek mengatakan terjalinnya kerjasama ini karena banyak universitas Austria yang bekerjasama dengan Indonesia seperti Universitas Gadjah Mada (UGM) dan Institut Teknologi Bandung (ITB). Bahkan telah banyak alumni Indonesia di Austria.

Ia juga mengklaim kerjasama ini merupakan penawaran spesial dari Austria. Karena Austria memberi kesempatan pada dosen dan peneliti Indonesia untuk belajar gratis di berbagai universitas di Austria. Andreas pun berharap Indonesia dan Austria dapat menjalin kerjasama secara intensive dan berkelanjutan.

 

Sumber: Ristekdikti

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *