Pelatihan Jurnalistik Prodi Ilmu Komunikasi: “Jangan Buat Nara Sumber Sakit Pinggang”

Achmad Supardi memberikan materi dalam Pelatihan Jurnalistik di Auditorium Charles Himawan, Selasa, 12 Januari 2016.
Achmad Supardi memberikan materi dalam Pelatihan Jurnalistik di Auditorium Charles Himawan, Selasa, 12 Januari 2016.

Dosen perempuan itu tampak tidak enak. Berkali-kali ia harus membalik badannya untuk menjawab pertanyaan dua reporter pelajar yang pagi itu mewawancarainya. Dua wartawan remaja yang seperti merasa bersalah karena “mengganggu” orang lain tersebut segera mengakhiri wawancaranya.

“Apa yang salah dengan proses wawancara ini?” tanya  Achmad Supardi kepada para peserta Pelatihan Jurnalistik di  Auditorium Charles Himawan, President University,  Selasa, 12 Januari 2016. Dosen Prodi Ilmu Komunikasi itu pun kembali memutar rekaman wawancara itu di layar.

Sejenak auditorium berkapasitas 400-an orang itu sepi. Peserta pelatihan yang terdiri dari siswa dan guru sejumlah SMA di Kabupaten Bekasi berpikir keras. Apa yang salah dengan wawancara itu? Bukankah pertanyaan-pertanyaan diajukan dengan lancar?

“Kesalahannya adalah, pewawancara tidak mencari posisi wawancara yang benar. Mereka mewawancarai nara sumber dari samping hingga nara sumber harus terus menerus membalik tubuhnya. Kalau wawancara itu berlangsung setengah jam saja, pasti nara sumbernya sakit pinggang,” kata Supardi. “Ingat ya, jangan membuat nara sumber sakit pinggang,” lanjutnya disambut tawa peserta.

Dalam pelatihan ini memang tak hanya disajikan teori seputar news values, perencanaan liputan, tips wawancara, dan teknik menulis, namun juga praktik. Peserta mewawancarai nara sumber di President University yang menarik perhatian mereka. Ada yang mewawancarai dosen, AIESEC, badan eksekutif mahasiswa, Internship and Career Center, dan sejumlah unit kerja lainnya. Hasil wawancara mereka diputar ulang untuk dikaji bersama dengan peserta lain.

Sambil makan siang, peserta pun menuliskan hasil laporannya. Rata-rata peserta sudah bisa menulis dalam arti memindah data yang didapat menjadi sebuah berita. Kelemahan utama ada pada pemilihan informasi yang layak ditaruh di lead atau paragraf pembuka sebuah berita.

“Kelemahan lain ada pada judul yang masih terlalu panjang dan pemahaman tentang tata bahasa Indonesia yang belum sempurna. Tapi untuk ukuran anak SMA, hasil liputan mereka sudah baik. Inti peristiwa sudah ter-cover,” kata Supardi.

Pelatihan Jurnalistik ini adalah program pengabdian kepada masyarakat (PKM) pertama Prodi Ilmu Komunikasi President University di tahun 2016. (spd)