Berakhirnya Era Jurnalisme Ludah

Mahasiswa Ilmu Komunikasi Pelajari Jurnalisme Berbasis Teknologi Data

Jurnalisme ludah sudah kehilangan masa. Masyarakat yang kian cerdas membutuhkan informasi berdasarkan fakta dan bukan opini atau pernyataan belaka. Jurnalisme ludah adalah jurnalisme yang hanya mengutip pernyataan narasumber terhadap sebuah hal atau peristiwa dan melupakan elaborasi atas peristiwa tersebut.

“Menyusun berita dari pernyataan memang mudah, namun tidak memberikan pemahaman kepada audiens. Sebaliknya, dengan data kita bisa memahami peristiwa secara utuh dan bahkan melakukan prediksi-prediksi,” kata Rahadian Paramita dalam paparan materinya di Auditorium Charles Himawan President University Cikarang, Rabu (15/3).

Namun ditegaskan Wakil Pemimpin Redaksi Beritagar ini, menggali data bukan pekerjaan sederhana. Memilah data dari ‘sampah’ lebih sulit lagi. Selain pemahaman berita dibutuhkan pula keterampilan teknis tentang pengelolaan dan penyortiran data. Inilah inti dari data driven journalism. Data membantu pembaca memahami suatu peristiwa yang rumit menjadi lebih mudah.

“Data dapat menceritakan sebuah pola, peristiwa, atau permasalahan dari sudut pandang yang lebih luas berdasarkan fakta. Seperti pada kasus Air Asia, jurnalisme berbasis data membantu mengilustrasikan laporan KNKT setebal 206 halaman dalam bentuk infografis sehingga menarik dan mudah dipahami publik,” lanjutnya.

“Jurnalisme berbasis data driven ini pada prinsipnya bagaimana memanfaatkan teknologi komputer untuk mengolah dan menganalisis data yang dibutuhkan dalam menyusun berita. Teknologi ini merupakan mesin pencari selayaknya Google yang dapat mengumpulkan berbagai informasi dan memudahkan para pewarta untuk menginterpretasi data,” tutur Rahadian.

Wakil Pemimpin Redaksi Beritagar ini menyadari bahwa di era teknologi, data tersedia secara masif dan dapat diakses oleh siapa saja. Ia mencontohkan bagaimana para wartawan yang dipimpinnya menggunakan data.

Selain jurnalisme berbasis data, para mahasiswa juga mempelajari bagaimana teknik wawancara dengan informan serta pengalaman wawancara dari praktisi media.

“Figur yang akan diwawancara adalah orang yang sedang dibicarakan dan memang berkaitan langsung dengan kasus yang sedang diangkat. Bila memungkinkan wawancara secara eksklusif. Dalam wawancara saya biasanya membawakan barang kesukaan narasumber, seperti membawakan cerutu saat saya mewawancara Din Minimi agar dia mau diwawancara,” tutur Heru Triyono mengisahkan.

Kuliah umum yang dihadiri lebih dari 120 mahasiswa ini merupakan pengayaan mata kuliah jurnalistik yang telah diajarkan di dalam kelas. Hal ini juga sekaligus pembekalan bagi para mahasiswa yang akan menjalani program magang sebelum penyusunan tugas akhir di President University.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *